Disbunnak OKI Gencarkan Operasi Pasar, Redam Lonjakan Harga Daging Jelang Lebaran

5

OGAN KOMERING ILIR, BERITAANDA – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) menggencarkan intervensi pasar guna menekan kenaikan harga daging sapi menjelang Hari Raya Idulfitri.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah lonjakan permintaan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah. Pasar murah menjadi instrumen utama pengendalian harga.

Dalam kegiatan tersebut, daging sapi dijual seharga Rp150.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pasar yang mencapai Rp180.000 per kilogram, tergantung jenis dan kualitas daging.

Selain daging sapi, Pemkab OKI juga menyediakan komoditas lain seperti ayam dan telur dengan harga terjangkau.

“Upaya ini diharapkan mampu menjadi penyeimbang harga di pasar tradisional sekaligus memberikan alternatif bagi masyarakat,” ujar Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan OKI, Dedy Kurniawan, melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Sadi Purwanto, di Pasar Kayuagung, Kamis (19/3).

Sadi menjelaskan, intervensi ini dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran serta keterbatasan pasokan sapi dari luar daerah, khususnya dari Lampung, yang sebagian distribusinya dialihkan ke wilayah lain.

Selain operasi pasar, Pemkab OKI juga melakukan monitoring harga untuk memastikan kondisi di lapangan tetap terkendali.

“Hasil pemantauan menunjukkan bahwa kenaikan harga masih dalam batas wajar dan dipengaruhi faktor musiman, seperti meningkatnya permintaan dan biaya distribusi,” jelasnya.

Sementara itu, pedagang daging sapi di Pasar Kayuagung, Haji Yanto menyatakan kenaikan harga menjelang Idulfitri tahun ini masih terkendali. Ia yang telah berjualan selama puluhan tahun menilai harga di Pasar Kayuagung masih kompetitif dibandingkan daerah lain.

“Kenaikan memang ada menjelang Lebaran, tetapi masih wajar karena harga beli sapi dari peternak juga naik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keterbatasan pasokan dari Lampung membuat pedagang harus membeli sapi dengan harga lebih tinggi, termasuk menanggung biaya transportasi. Hal ini berdampak pada harga jual daging di tingkat pasar.

Senada, pedagang lainnya, Haji Jahri, menyebut perbedaan harga daging di pasaran dipengaruhi oleh kualitas dan jenis daging sapi.

“Harus jelas jenis daging apa yang dibandingkan. Beda bagian, beda kualitas, tentu beda harga,” ujarnya.

Ia menambahkan, kualitas daging juga ditentukan oleh pakan, seperti konsentrat (ampas tahu, dedak, bungkil kelapa, dan onggok) maupun hijauan berupa rumput. Selain itu, perbedaan harga antarwilayah turut dipengaruhi jenis sapi, lokasi pembelian, biaya transportasi, serta pola pemeliharaan.

Jahri juga menyebut kebutuhan konsumen berbeda-beda. Rumah tangga cenderung memilih daging bersih, sementara pedagang bakso lebih mengutamakan daging berlemak. Meski harga mengalami kenaikan, aktivitas jual beli tetap ramai menjelang hari raya.

Dengan kombinasi intervensi pasar, pengawasan harga, serta pelibatan pelaku usaha, Pemkab OKI berupaya meredam gejolak harga sekaligus menjaga kestabilan pasokan bahan pangan strategis. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda