Bangun Kepercayaan Publik, Kapolda Sumsel Ajak Jajaran Terima Kritikan

10

PALEMBANG, BERITAANDA – Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) Irjen Pol Sandi Nugroho menegaskan bahwa masyarakat merupakan ‘juragan’ bagi institusi Polri. Penegasan tersebut mencerminkan komitmen bahwa masyarakat bukan sekadar objek pengamanan, melainkan pihak yang memiliki otoritas moral untuk menilai kinerja aparat penegak hukum.

Pernyataan itu disampaikan saat Kapolda memberikan arahan kepada para Pejabat Utama (PJU) dalam agenda rutin coffee morning di Ruang Transit Gedung Presisi Polda Sumsel, Kamis (2/4/2026) pagi.

“Kita harus selalu ingat, pelanggan kita, juragan kita adalah masyarakat. Kita boleh merasa sudah bekerja dengan baik, tetapi yang berhak menilai tetap masyarakat,” tegasnya.

Sebagai wujud akuntabilitas kepada publik, Kapolda menginstruksikan seluruh jajaran untuk meninggalkan sikap anti kritik. Ia mendorong pembukaan ruang dialog yang inklusif dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok yang selama ini kerap melontarkan kritik terhadap institusi kepolisian.

Menurutnya, kritik yang disampaikan secara konstruktif justru menjadi refleksi penting dalam memperbaiki tata kelola kepolisian di lapangan.

“Kita akan mengundang berbagai komunitas, mulai dari yang soft, medium, hingga hard. Bahkan kelompok yang sering mengkritik polisi pun akan kita ajak berdialog. Kita tidak anti kritik, karena itu adalah cermin untuk berbenah,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, turut disampaikan paparan teknis oleh Kepala Biro Logistik (Karolog) Polda Sumsel, Kombes Pol Budi Santosa. Ia memaparkan secara komprehensif terkait tugas pokok dan fungsi bidang logistik, serta optimalisasi pemanfaatan aset guna mendukung kinerja personel di lapangan.

Kapolda menegaskan bahwa seluruh kesiapan logistik, sarana, dan prasarana harus bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan yang cepat, tepat, dan responsif kepada masyarakat. Lebih lanjut, Direktorat Intelijen Keamanan (Ditintelkam) diminta berperan aktif memfasilitasi forum pertemuan langsung antara polisi dan masyarakat sebagai bagian dari pendekatan humanis.

“Jika kita membangun sinergi dan mendengar langsung masyarakat sebagai juragan kita, potensi konflik bisa dicegah sejak dini. Harapannya, masyarakat merasa menjadi bagian dari tim dalam menjaga kamtibmas,” pungkasnya. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda