Soekirman: Literasi Masa Depan Kita

325

SERGAI-SUMUT, BERITAANDA – Bupati Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) Soekirman memaparkan bahwa tugas kita sebagai pemerintah, orangtua, dan masyarakat adalah memastikan anak-anak kita memiliki masa depan. Lantas muncul pertanyaan, apa itu masa depan dan seperti apa bentuknya.

Alvin Toffller dalam The Future Shock (1970) mengatakan, masa depan umat manusia adalah informasi. Siapa yang menguasi informasi, maka dialah yang menguasai dunia. Agar mampu menguasai informasi, manusia harus terus-menerus belajar.

The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write but those who cannot learn, unlearn and relearn,” tulis Toffler.

Ramalan Toffler kini menjadi kenyataan. Kita memasuki era industri 4.0 dimana motor penggerakan utamanya adalah informasi. Fenomana teknologi 5G, big data, i-cloud dll, benar-benar mengubah kehidupan kita. Semua menjadi sangat cepat dan praktis.

Namun dibalik pesonanya, industri 4.0 juga membawa ancaman. Perkembangan teknologi akan mengusur banyak pekerjaan konvesional seperti petugas data entri, teller bank, buruh pabrik, dan pekerjaan yang sifatnya mengulang-ulang. McKensey memprediksi 23 juta pekerjaan akan hilang di tahun 2030. Pekerjaan itu akan digantikan 46 juta pekerjaan baru, asalkan anak-anak kita mampu beradapatasi dengan teknologi baru.

Lantas bagaimana cara mempersiapkan anak-anak kita siap masuk di industri 4.0?. Agus Marwan menjawabnya tegas dengan literasi. Literasi adalah keterampilan mencari, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas. Orang-orang yang terampil di bidang ini disebut orang literat. Dan pondasi keterampilan literasi ini adalah keterampilan membaca.

Sejumlah penelitian pada akhir 2019, menunjukkan Indonesia harus benar-benar mencari cara yang efektif dan massif untuk meningkatkan keterampilan membaca anak-anak kita. Studi Bank Dunia bertajuk Learning Poverty mengatakan, sepertiga dari anak Indonesia usia 10 tahun tidak terampil membaca dan memahami cerita sederhana. Bahkan hasil Programme International Student Assessment (PISA) tahun 2018, menunjukkan selama 18 tahun skor keterampilan membaca anak-anak Indonesia tidak mengalami perubahan signifikan. Bahkan setelah 18 tahun berpartisipasi dalam PISA, nilai terbaik membaca Indonesia di tahun 2018 sama dengan skor di tahun 2000. Artinya kita mundur 18 tahun.

Riset Bank Bunia dan PISA 2018 sebenarnya hanya puncak gunung es. Jauh hari sebelumnya Indonesia sudah diperingkatkan tentang rendahnya keterampilan membaca ini. Hasil Early Grade Reading Assessment (EGRA) yang dilakukan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) yang dilakukan kepada 15.000 siswa kelas 3 di 7 provinsi utama di Indonesia selama periode 2012-2015, menunjukkan anak-anak Indonesia sebenarnya mampu membaca teks, namun sebagai besar dari mereka tidak tahu makna yang dibaca. Hasil ini dikonfirmasi Assessment Kompetensi Siswa Indonsia (AKSI) Kemendikbud tahun 2016, yang menyebut 47 persen siswa kelas IV SD di Indonesia tidak terampil membaca. Padahal anak-anak ini seharusnya sudah harus bisa membaca saat kelas 3 SD.

Besarnya jumlah siswa SD yang tidak terampil, merupakan ancaman besar bagi masa depan pembangunan di Indonesia. Jika tidak ditangani sejak dini, maka anak-anak ini akan menjadi beban keuangan pemerintah di masa depan.

Studi di Inggris bertajuk The Long-Term Cost of Literacy Difficulties (2009) menunjukkan jika anak tidak terampil membaca di SD, maka di masa depan mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan, sekalipun negara sudah menyediakan lapangan kerja. Anak-anak ini tidak mampu beradaptasi dengan ritme dan keterampilan kerja yang dibutuhkan. Selain itu saat dewasa, anak-anak ini tidak mampu menjaga kesehatan, terlibat dalam kejahatan, dan rendah pendidikan.

Pemerintah Inggris harus mengeluarkan 168 juta pound sterling (Rp.3,3 triliun) sebagai beban sosial untuk membantu kehidupan mereka saat dewasa. Padahal jumlah anak yang tidak terampil membaca pada level SD di Inggris, hanya 5-7 persen dari jumlah seluruh siswa SD.

Buku yang ditulis Agus Marwan ini, hadir pada saat yang tepat. Mengambil tajuk Membangun Literasi Bangsa, Upaya Serdang Bedagai Mewujudkan Kabupaten Literasi (2020), Agus Marwan mencoba menghadirkan pengalaman Sergai sebagai salah satu contoh gerakan literasi yang komprehensif. Sebuah gerakan yang melibatkan semua level partisipasi, mulai akar rumput seperti sekolah dan masyarakat, sampai level pengambil kebijakan yaitu pemerintah dan DPRD.

Buku ini menghadirkan kembali pemahanan bahwa membangun bangsa merupakan tanggung jawab kita semua. Gerakan literasi bukan sekadar gerakan membaca-berhitung-menulis, tetapi gerakan budaya. Hanya dengan mampu memahami informasi, anak-anak kita bisa tumbuh menjadi generasi yang berbudaya, beradab, religius, terampil, cakap bekerjasama serta aktif berpartisipasi dalam pembangunan.

Buku ini bisa menjadi referensi kepada siapa saja yang terlibat dalam gerakan literasi, yaitu pendidik, pengambil kebijakan, akitivis, akademisi dan masyarakat. Bagi kita, para pengambil kebijakan dan juga masyarakat di Sergai, buku ini dapat menjadi cerminan bersama untuk melihat apa yang telah kita lakukan, apa yang menjadi kekuatan kita, dan juga apa yang masih lemah dan kurang di kita.

Soekirman mengucapkan terimakasih dan sekaligus menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas upaya saudara Agus Marwan, yang telah memotret Gerakan Literasi di Sergai secara obyektif, sehingga menghasilkan karya sebuah buku yang luar biasa ini.

“Saya mengenal saudara Agus Marwan tidak saja sebagai penulis, tapi juga sebagai inovator dan motor penggerak literasi di Sumatera Utara. Kita tunggu karya-karya beliau berikutnya,” pungkas dia. (Dipa)

Bagaimana Menurut Anda