Pertigaan Gang ‘Cair Do’ Jelang Pesta Demokrasi di Padangsidimpuan

743
Gambar maupun ulasan 'cair do' hanya ilustrasi dan artikel rekayasa semata.

PADANGSIDIMPUAN-SUMUT, BERITAANDA – Cair do, slogan ini kembali bergema dan populer hampir di seantero mulut masyarakat. Jelang pesta demokrasi pemilihan legislatif (pileg) 2019 di Padangsidimpuan, salah satu kota kecil cakupan Provinsi Sumatera Utara.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cair do itu kira-kira ditafsirkan dengan makna cairkah. Artinya, sebuah kompensasi berupa uang atau pemberian cuma-cuma bagi pemilik hak suara, agar bersedia memberikan pilihan kepada seseorang yang turut serta dalam kontestasi politik.

“Kalau ada (dia) calon legislatif (caleg) kasi samaku, barulah aku pilih, tapi kalau gak ada gak bakalan kupilih,” demikian pernyataan Boru Lubis, ibu dua anak yang sedari pagi hari nongkrong bersama dua umak-umak (ibu-ibu) lainnya di pertigaan gang sempit desa.

Pertigaan gang rabat beton selebar dua meter, salah satu proyek bangunan dana desa ini baru beberapa bulan selesai. Sejak itulah, tempat ini kerap menjadi stasiun pembahasaan isu bagi sekumpulan ibu muda, seraya menanti kepulangan suami mereka bekerja.

Semua isu mereka gulir disini, mulai dari istri si anu yang sumber pendapatannya diberi tanda tanya tapi bagaimana mungkin bisa mampu membeli gelang emas ditangan. Padahal, pekerjaan sang suami hanya sebatas sopir truk pasir milik juragan toko bangunan.

“Dapat uang darimanalah orang itu, umak anu pun bukan ada kerjanya. Suaminya pun cuma suruh-suruhan toke ajanya,” celoteh Boru Hasibuan dengan logat Angkola Jae-nya, istri dari pria berprofesi sama, sehingga merasa sok tahu besaran pendapatan seorang sopir.

Seolah tak sudi topik pembahasan buyar, apalagi sampai melebar jauh kemana-mana, Boru Lubis potong pembicaraan rekannya dan menyuarakan aspirasi seputar belum bertamunya caleg manapun lewat tim sukses mendata ia dan suaminya. Tentu dengan catatan khusus, cair do, kalau iya silahkan data.

Seketika itu juga kekhawatiran Boru Lubis ditimpali Boru Harahap, yang juga menuturkan aroma keengganan. Ia ogah menggunakan hak pilihnya, khusus untuk caleg daerah. Lagi-lagi dengan catatan, cair do, kalau tidak tegas Boru Harahap lontarkan tak mencoblos surat suara di tingkatan itu.

“Dipilih pun dia dan menang, tak bakalan dia ingat dengan semua janji manisnya sama rakyat. Bagusan tak usah dipilih, kecuali kalau dia mau beri saweran, minimalnya sebesar Rp100 ribu saja bolehlah,” ujar Boru Harahap berapi-api disambut kata kompak ‘betul’ oleh dua ibu peserta sidang lainnya.

Nyaris mirip skema yang ada di tata tertib (tatib) lembaga legislatif. Kumpulan ibu pembahas ini seolah telah menuangkan kesepakatan bersama, bahwa pertigaan gang adalah ruang resmi paripurna tak beratap dalam menggodok semua isu. Terlebih pembahasan topik ‘cair do’ jelang pileg 2019.

Pada akhirnya, paradigma ‘cair do’ tampak tertancap erat di hati sanubari masyarakat. Cair do seakan menjadi bahan motivasi diri lekas bergegas ke TPS dalam menentukan pilihan, baik pilkada, pileg, bahkan pilkades sekalipun. Sampai kapan, dan siapa pihak yang bertanggungjawab atas hal ini, wallahu’alam. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda