Wow, OKU Duduki Peringkat 3 Penderita HIV/AIDS Terbanyak se-Sumsel

0

BATURAJA-OKU, BERITAANDA– Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) yang berjuluk Bumi Sebimbing Sekundang menempati posisi 3 (tiga) jumlah penularan dan penderita penyakit kelamin mematikan, yaitu HIV/AIDS se-Provinsi Sumsel. Hal ini menjadi catatan khusus bagi pemerintah setempat.

Hal ini diungkapkan orang nomor satu di kabupaten ini, Drs H Kuryana Azis saat menyampaikan arahannya pada rapat koordinasi kepengurusan Komisi Penanggulangan Aids (KPA), Kamis (9/2/2017).

“Sangat memprihatinkan jika OKU menempati rengking 3 HIV/AIDS terbanyak. Artinya masih banyak praktek prostitusi terselubung di OKU ini. Kemungkinan juga salon-salon dan kafe menawarkan jasa sex kepada pelanggan,” ungkapnya.

Dikatakannya, guna melakukan pencegahan dirinya memerintahkan bawahannya untuk mengambil langkah tegas, termasuk Satker Pol PP dan Linmas untuk bertindak tegas dalam mengambil langkah pencegahan terhadap tempat yang disinyalir sebagai sumber penyakit masyarakat tersebut.

“Tidak meunutup kemungkinan seperti tempat salon-salon terselubung yang dijaga oleh para oknum waria yang menawarkan praktek asusila, meraka terkadang dengan sengaja menawarkan para wanita-wanita penghibur untuk melakukan seks bebas, tolong Pol PP tindak tegas salon-salon terselubung ini,” perintahnya.

Diungkapkan Kuryana, dahulu Pemkab OKU pernah melakukan kerjasama tim razia terpadu dengan pihak Polres OKU, tapi kurang berjalan dan akhirnya bubar. Untuk ia meminta kepada Pol PP untuk membentuk tim kembali bersama Polres OKU agar bisa melaksanakan razia.

Kalau ada salon-salon atau cafe-cafe yang tak berizin dan termasuk kategori terselubung segera ditindak, tidak perlu menunggu apa-apa lagi, bila perlu obrak-abrik, memang seharusnya tidak mudah mengeluarkan izin salon dan cafe karena itu ada syarat khusunya jadi tindak tegas yang tak berizin,” tegasnya.

Tak hanya salon dan cafe-cafe, kehadiran anak punk di Kota Baturaja juga menjadi perhatian Kuryana. Menurutnya, kehadiran mereka membuat resah masyarakat, karena tak jarang aksi para anak jalanan ini kerap mengarah ke tindakan kriminal dan asusila, tentunya hal ini sangat mengganggu ketertiban di tengah masyarakat.

“Bisa kita lihat terkadang anak punk itu ada yang perempuan, mereka kumpul di bawah jembatan, dan mungkin saja mereka melakukan seks bebas dan ini bisa saja terjadi penyakit menular,” ujarnya.

Tak ingin anak punk ini masih berkeliaran di OKU, bupati memerintahkan kepada pihak Pol PP agar menindak secara tegas setiap anak punk yang sering nongkrong di OKU. Jika anak punk tersebut berasal dari luar OKU kembalikan ke daerah masing-masing, tapi jika dari OKU maka lakukan pembinaan.

“Jadi jika mereka dari luar OKU kembalikan ke daerahnya, kalau dari OKU panggil orang tuanya, lakukan pembinaan, nah yang susahnya ini terkadang mereka tidak bisa dibina, tolong segara ambil tindakkan,” pungkasnya. (uly)

Bagaimana Menurut Anda