Sekda NTB: di Era Teknologi Sekarang Pustakawan Harus Segera Menyesuaikan Diri

0

MATARAM-NTB, BERITAANDA – Literasi masyarakat merupakan tugas dan peran perpustakaan, dalam rangka mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Namun di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini, telah menggeser pola pikir dan cara masyarakat memperoleh informasi yang semula dari buku perpustakaan menjadi lebih berkiblat pada teknologi informasi.

Untuk mewujudkan hal tersebut, maka perpustakaan dan para pustakawan harus segera menyesuaikan diri dengan perkembangan digital tersebut. Sehingga kontribusi positif dari pustakawan saat ini dan ke depan, tidak hanya secara makro tapi juga secara lebih terperinci diharapkan dapat dirumuskan melalui konferensi bersama seluruh praktisi perpustakaan.

Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Ir. H Rosyadi Sayuti, Ph. D, yang mewakili Gubernur NTB menegaskan hal itu saat membuka secara resmi Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-10 dengan tema ‘Peran Perpustakaan Digital Dalam Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/Sustainable Development Goals 2030’, Selasa (7/11/2017) di Hotel Lombok Raya Mataram.

Pembukaan konferensi ditandai pemukulan gendang beleq, alat musik khas suku sasak, oleh Sekda NTB dan Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muh. Syarif Bando. Dilanjutkan dengan penandatanganan MoU tentang pengembangan perpustakaan, antara perpustakaan RI dengan 13 mitranya yang terdiri dari universitas dan sekolah tinggi di Indonesia. Antara lain Universitas Respati Indonesia, Universitas Muhamadiyah Ponorogo, Muhamadiyah Makasar, Universitas Muslim Indonesia, Universitas Siliwangi, Akademi Akuntansi Riau, Politeknik Negeri Jakarta, Politeknik Negeri Manado, Politeknik Ilmu Pelayaran Makasar, STIMA Immi Jakarta, STMIK Akba Makasar, STAIN Curup Bengkulu dan STIE Perbanas Surabaya.

Pada kesempatan itu, Kepala Perpustakaan RI didampingi Sekda NTB juga menyerahkan secara simbolis masing-masing 1 unit mobil perpustakaan keliling kepada bupati/walikota dari 5 kabupaten/kota di NTB, yakni Kabupaten Bima, Kota Bima, Sumbawa Barat, Lombok Tengah dan Kota Mataram.

Dihadapan seluruh praktisi perpustakaan yang hadir, Kepala Perpustakan RI Muh Syarif menyebut konferensi sebagai moment baik untuk merumuskan kebijakan perkembangan perpustakaan di masa yang akan datang. Suka tidak suka, ujarnya, paradigma perpustakaan telah bergeser.

“Redefinisi perpustakaan merupakan suatu keharusan, jika tidak ingin perpustakaan tertinggal. Redefinisi itu juga termasuk mengenai tolak ukur tingkat kemajuan perpustakaan, yang tidak lagi dihitung dari berapa jumlah kunjungan ke perpustakaan dan berapa banyak buku yang terbaca, tetapi lebih kepada bagaimana caranya memanfaatkan teknologi yang berkonten informasi dengan sebanyak-banyaknya, agar dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat,” kata dia.

Ia menyebut, di tengah kecanggihan teknologi, generasi milenial saat ini, semua berkiblat pada perangkat yang canggih yang dapat menyediakan berbagai informasi.

“Anak- anak masa kini memiliki pola pikir yang jauh berbeda bila dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Oleh karenanya, dibutuhkan pendekatan-pendekatan dan pemanfaatan teknologi informasi untuk menjangkau mereka,” terangnya.

Sebelumnya, ketua panitia konferensi Muslimin S.Sos MM melaporkan, konferensi ini menghadirkan 700 praktisi perpustakaan.

“Forum ini merupakan ajang merumuskan grand design bagi perkembangan perpustakaan ke depannya,” pungkas dia. (Suhairy)

Bagaimana Menurut Anda