Sains Festival 2018 Resmi Ditutup

0

MUARA ENIM, BERITAADA – Acara pagelaran BAF Sains Festival 2018 Sumatera Selatan di GOR Bukit Asam Tanjung Enim, resmi ditutup oleh Wakil Ketua Bukit Asam Foundation (BAF), H Anipar, Kamis (8/11/2018).

Acara yang dilaksanakan selama 2 hari itu berlangsung sukses dan meriah, mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Muara Enim.

“Selaku penyelenggara BAF mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan mendukung kegiatan ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh bagi pendidikan di Sumatera Selatan,” ungkap Anipar.

Sementara itu, SMA Negeri Sumatera Selatan dalam lomba inovasi meraih juara The Best Inovation berkat menciptakan energi terbarukan briket terbuat dari biji buah salak dan ampas tebu. Selain piala, tim terdiri Azis Saputra, Surya Bima Wicaksono, dan Dewi Mira Rizki ini mendapat uang pembinaan Rp7 juta. Selain mendapat best inovasi, tim SMA Negeri Sumatera Selatan juga mendapat juara The Best Idea.

Ketua tim, Azis Saputra menjelaskan, inovasinya itu dinamakan BRIPTU (Briket Biji Salak Ampas Tebu). Bisa menjadi energi pengganti minyak tanah dan gas elpiji. Namun kedepan, penemuannya ini masih akan terus dikembangkan lagi supaya dapat menjadi kebutuhan masyarakat.

“Energi alternatif yang kami ciptakan ini dapat diperbarui, dan masih original. Kedepan masih akan kita kembangkan dan bisa aplikatif bagi masyarakat. Pengganti gas elpiji dan minyak tanah,” kata Azis.

Dijekaskan dia, langkah awal dari ide, bahan, dan proses pembuatannya dibantu oleh guru pembimbing yakni Fadly Ardianu S.Si, dia sehari-hari guru laboratorium di SMA Negeri Sumatera Selatan.

Sebelumnya, tim ini tidak mempunyai banyak waktu untuk mempersiapkan mengikuti lomba sains di Tanjung Enim kali ini. Namun berkat dari ide dan usaha tim, akhirnya inovasinya ini mendapatkan juara pertama.

Tersedianya bahan baku biji buah salak dan ampas tebu membuat pihaknya yakin, kedepan briket buatannya ini sangat ekonomis dipakai masyarakat sebagai keperluan pembakaran. Kedepan, pihaknya akan berusaha menciptakan alat pemanas untuk briket buatannya tersebut. Namun, kata dia, prinsip kerjanya sama dengan bahan briket batubara yang ada sekarang ini. Dapat dibakar menggunakan tungku.

“Jadi awal mulanya kami mencari refrensi tentang energi alternatif. Melihat bahan baku biji salak, dan ampas tebu banyak didapatkan, lalu kami putuskan untuk mengolah menjadi briket,” kata Azis lagi.

Proses pembuatannya, cerita dia, pertama biji salak dikarbonisasi dengan cara dibakar menjadi arang lalu ditumbuk menjadi serbuk halus. Kemudian, ampas tebu juga demikian setelah di karbonisasi ditumbuk menjadi serbuk. Lalu keduanya dicampur, ditambahkan dengan tepung terigu dicetak bulat-bulat kecil. Setelah itu proses pengeringan secara manual dengan sinar matahari atau dengan cara di oven.

“Setelah jadi briket, bisa dicoba dengan tungku briket atau dibakar langsung. Tahan api bisa sampai 2 jam, dan tidak menimbulkan polusi,” ujarnya.

Kedepan, setelah ini pihaknya akan terus mengembangkan lagi supaya dapat cetak massal bermanfaat untuk masyarakat.

“Mengikuti even di Tanjung Enim ini motivasinya adalah ingin membantu masyarakat dalam mengatasi ketersedian gas elpiji jika terjadi kelangkaan. Kemudian briket ini bisa menjadi pengganti bahan bakar yang murah dan banyak tersedia,” pungkas dia. (Angga)

Bagaimana Menurut Anda