Revolusi Industri Pariwisata Belitung 4.0 Berbasis Generasi Milenial

182

Oleh: Surya Tirta Niagara, S. Par MM (Dosen Akademi Pariwisata Buana Wisata Yogyakarta)

BERITAANDA – Sewindu sudah revolusi industri 4.0 mulai bergerak sejak tahun 2011, ditandai dengan dibukanya pasar industri dengan pesaingan di era digital melalui berbagai pertukaran dan jual beli melalui internet maupun berbasiskan aplikasi, travel agen digantikan oleh online travel agen, tour guide digantikan guide berbasis sistem aplikasi seperti google maps, waze dan lain sebagainya. Serta produk-produk souvenir yang biasanya hanya dapat dijumpai di destinasi wisata setempat, kini dapat diakses dan bertebaran di online shop, layanan resepsionis digantikan oleh sistem operasi reservasi.

Dengan adanya fenomena tersebut, satu hal yang pasti bahwa, ketika revolusi industri itu tiba di daerah-daerah, otomatis sistem pasar dari hulu ke hilir industri pariwisata yang dikenal dengan industri padat karya, akan terdampak dan akan habis dirambahnya.

Kita sebagai masyarakat tidak perlu terkejut dengan fenomena ini, dikarenakan sebagian besar kita sudah mulai terbiasa dengan fenomena tersebut, dan juga sudah diterapkan baik diskala industrial maupun personal diberbagai kota di Indonesia.

Sebagai contoh di pulau penghasil devisa terbesar pariwisata wisata yaitu Bali, sudah dikembangkan aplikasi Bali Tour Guide untuk perangkat android yang memberikan informasi mengenai objek-objek wisata di Pulau Bali.

Sedangkan di kota pelajar tempat saya menuntut ilmu semasa kuliah, Pemda DIY sudah meluncurkan aplikasi yang bernama Jogja Istimewa guna menunjang mobilitas wisatawan berkunjung ke Jogja, dengan salah satu fitur CCTV disetiap sudut kota dapat diakses untuk mengetahui kondisi jalanan melalui aplikasi ini.

Dengan bermodalkan internet, gadget atau smart phone, semua urusan traveling bisa dibereskan tanpa menggunakan tenaga manusia.

Bagaimana dengan Belitung. Saat ini dilihat secara faktual, meningkatnya jumlah pertumbuhan usaha-usaha pariwisata seperti travel agen, jasa-jasa wisata lainnya yang sangat signifikan, merambah sektor ekonomi setempat, yang kita ketahui bahwa Pulau Belitung sudah menjadi salah satu destinasi yang dilirik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Berdasarakan data yang dirilis oleh BPS Babel, jumlah tamu yang menginap pada hotel berbintang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada bulan Februari 2019 tercatat sebanyak 27.474 orang. Jumlah ini naik sebesar 3,89 persen dibandingkan dengan jumlah tamu bulan sebelumnya, yang sebanyak 26.446 orang.

Jumlah tamu asing naik 83,68 persen, sedangkan jumlah tamu domestik naik, dan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Februari 2019 mencapai rata-rata 30,10 persen, naik 2,87 poin dibandingkan dengan TPK Januari 2019 yang tercatat sebesar 27,24 persen.

Melihat data dengan presentase kenaikan tersebut, suatu hal yang pasti, pelaku bisnis pariwisata mulai melirik Pulau Belitung sebagai lahan investasi yang menjanjikan.

Saat ini, pemerintah bisa berdalih bahwa dengan masuknya investasi-investasi itu akan berpengaruh pada peningkatan lapangan pekerjaan. Dengan demikian, angka pengangguran dapat ditekan.

Namun bagaimana jika revolusi industri 4.0 mulai merambah masuk di sektor pariwisata di Belitung, sudah siapkah kita menerima kenyataan bahwa di tengah kekurangan sumber daya manusia (SDM) serta infrastruktur sosial dasar pada masyarakat yang belum terpenuhi, dapat dikatakan masih minim di Belitung, ataukah kita terpaksa menerima dengan sebuah resiko yang teramat besar menjadi penonton atau menjadi penyedia jasa wisata yang amatiran, sehingga merusak citra wisata Belitung yang kita saksikan sebagai surga bagi industri ekonomi yang menjanjikan namun tak bisa kita nikmati.

Sudah saatnya kita masyarakat yang mempunyai pola pikir maju sadar dan membuka mata kita, kata-kata bombastis dan janji-janji manis berhenti diucapkan sambil menyusun strategi persiapan untuk perubahan era industri 4.0.

Untuk itu, salah satu langkah yang jelas dan dapat diimplementasikan pada saat ini adalah dengan menginvestasikan generasi milenial Belitung menuju perubahan revolusi industri pariwisata kedepan, sehingga menguatkan prospek yang kita punyai agar mampu bersaingan secara global di bidang sumber daya manusia, yaitu generasi milenial yang kompeten di industri pariwisata.

Perkembangan industri pariwisata dengan revolusi industri 4.0 ini sangat erat kaitannya dengan generasi milenial. Dikarenakan generasi inilah yang sangat dekat, bahkan lekat dengan perkembangan teknologi. Sudah menjadi selogan bagi generasi milenial bahwa no internet no life, no gadget no exist.

Berbagai hasil pengamatan survei dan secara fakta di lapangan pun, telah menegaskan salah satu ciri khas kaum milenial adalah dekat dengan laju pekembangan teknologi. Itu artinya, masa depan pariwisata tergantung dari persiapan kita saat ini.

Kita masih punya optimisme jika generasi milenial diinvestasikan dalam suatu program yang terukur, sehingga mampu mengubah tantangan pariwisata pada masa yang akan datang menjadi peluang usaha. Maka dari itu, generasi milenial harus segera diinvestasikan lewat pendidikan, pelatihan, dan kompentensi serta pendampingan yang mampu menjawab kebutuhan pariwisata pada masa yang akan datang.

Dengan demikian, diharapkan pemerintah ataupun stakeholder dapat mengambil langkah yang nyata untuk menyongsong perubahan era evolusi industri 4.0 dengan mengirim anak muda generasi milenial yang berbakat dalam bidang komputer, technopreneurship, industrial robotic design, mobile application and technology, bioinformatika, agroteknologi, manajemen pariwisata, desain komunikasi visual dan bidang-bidang pendukung lainnya untuk mempersiapkan dan bersaingan di era revolusi industri 4.0. (*)

Bagaimana Menurut Anda