Please dech, Zaman Now Masih Saja Menggunakan Kampanye Hitam

0

Oleh: Imam Irfa’i, S. KOM. I (Penyuluh Agama Islam Kemenag Musi Banyuasin)

BERITAANDA – Tak terasa pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati di Provinsi Sumatera Selatan sudah semakin terasa hangat. Bahkan, kehangatan pesta demokrasi ini sudah terasa sejak masing-masing calon mendaftarkan diri mereka ke KPUD. Sementara tim pemenangan masing-masing kandidat sudah terlebih dahulu menyebarkan berbagai atribut kampaye, seperti stiker, baliho dan spanduk yang mempromosikan jagoannya masing-masing.

Dunia jagat medsos tidak kalah ramai dibandingkan dunia nyata, masing-masing tim pemenangan maupun simpatisan memuat berbagai macam gambar dan kata-kata yang mengekspresikan kelebihan masing-masing kandidatnya. Namun, sungguh disayangkan bahwa fenomena tersebut tidak disertai dengan tanggung jawab serta etika dalam mengekspresikan semua bentuk dukungan kepada calonnya. Masih terdapat sebagian simpatisan maupun pendukung menggunakan kampanye hitam untuk menjatuhkan kandidat lainnya.

Kampanye hitam sering dilakukan sebagai senjata untuk menjatuhkan kredibilitas dan menjegal lawan politiknya. Cara-cara seperti ini, tentunya seringkali menjurus ke arah hal-hal yang negatif dan tidak sportif. Seperti membuka aib, memfitnah, merusak baliho atau stiker kandidat lainnya, dan bahkan menyebarkan berita bohong berkaitan dengan kandidat lain.

Please dech, zaman now masih saja menggunakan kampanye hitam. Apakah tidak malu masih menggunakan cara-cara yang tidak fair dan tidak sportif untuk memenangi kontestasi pilkada?, mengingat masyarakat sudah semakin cerdas dan beretika dalam memilih pemimpinnya.

Sadarkah ia, bahwa kampanye hitam merupakan salah satu bentuk ketidakpercayaan dirinya untuk menjadi pemimpin, dalam jiwanya telah tertanam sifat pengecut, curang, pesimis dan tidak jujur. Maka orang seperti ini tidak competibel dijadikan sebagai pemimpin.

Pemimpin bukanlah dicetak secara instans, namun harus memiliki track record yang bagus. Memiliki integritas dan moralitas yang teruji, sehingga tidak akan berpengaruh besar terhadap kampaye hitam dari lawan politiknya.

‘Zaman Now’ merupakan terminologi kekinian yang menggambarkan suasana yang lebih kekinian, lebih baik, lebih modern, dan lebih maju dibandingkan ‘zaman old’. Hal-hal yang bersifat negatif dan sudah tidak sesuai dengan kekinian, maka itu dapat diklasifikasikan sebagai ‘zaman old’.

Zaman now harus memiliki semangat maju, semangat untuk menghilangkan virus-virus yang akan menciptakan sekat-sekat perbedaan, pertikaian dan permusuhan di tengah masyarakat. Seperti kampanye hitam dan saling menjelekkan satu sama lain. Konsekuensinya, teman menjadi lawan, sahabat menjadi musuh, saudara menjadi ancaman.

Begitu besarnya dampak dari kampanye hitam ini, maka Allah SWT mengancam orang-orang yang suka menyebarkan berita bohong melalui media apa saja akan ditempatkan di dasar api neraka :

“Sesungguhnya orang-orang munafiq akan ditempatka di dasar api neraka dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka” (Annisa 145).

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin mengatakan bahwa pada hakikatnya kebohongan tidak diperbolehkan bukan karena kebohongan itu sendiri. Akan tetapi kebohongan dilarang dalam agama karena kebobongan itu menimbulkan banyak dampak negatif.

Saat ini, merupakan momentum yang sangat pas untuk semua calon harus menggaungkan pilkada zaman now, pilkada yang damai, sejuk, dan menyenangkan dengan berlandaskan kesalehan politik yang mengedepankan aspek spritualitas, moral, etika serta sell ideas and thoughts (menjual gagasan dan pemikiran) kepada masyarakat tentang skema besar dalam memajukan Sumsel ke depan.

Meskipun kampanye bersih itu terkadang berat, tapi siksa Allah lebih pedih daripada hanya sekedar berat. Maka marilah kita berpilkada tanpa harus menebar dosa dan permusuhan, marilah kita nikmati pesta demokrasi di daerah kita ini dengan penuh kesenangan dan sportivitas, jaga lidah ini dengan kejujuran dan tidak menyebarkan aib saudara kita. (*)

Bagaimana Menurut Anda