Pemilik Apotek Ini Ketahuan Jual Obat Kuat Diduga Tanpa Izin Edar

558

GUNUNGSITOLI-SUMUT, BERITAANDA – SP alias Endri (44) yang tercatat tinggal di Jalan Imam Bonjol No. 09 Kelurahan Pasar Kecamatan Gunungsitoli Kota Gunungsitoli serta pemilik Apotek Jaya Parma ini, ditangkap Sat Reskrim Polres Nias karena mengedarkan obat kuat yang diduga tanpa izin edar.

Berdasarkan keterangan Kasat Reskrim AKP Jonista Tarigan, SH yang disampaikan oleh PS. Paur Subbag Humas Bripka Restu Gulo menyampaikan, pada Kamis (28/2/2019) silam Unit Lidik Sat Reskrim memperoleh informasi dari masyarakat kalau di apotek tersebut menjual obat kuat yang diduga tanpa izin edar.

“Kasat Reskrim AKP Jonista Tarigan, SH langsung memerintahkan Tim Buser dipimpin Bripka Suherman, SH untuk melakukan tugas penyelidikan untuk pemeriksaan di apotik tersebut,” terang Restu kepada BERITAANDA, Ahad (14/4/2019).

Kemudian, pada hari Jumat (1/3/2019) sekira pukul 13.00 Wib, petugas menyamar sebagai pembeli dan membeli satu pcs nangenzengzhangsu dari tersangka EP di Apotek Jaya Farma.

“Setelah melihat barang bukti, petugas memperkenalkan diri sebagai Tim Penyelidik Brig Sat Reskrim Polres Nias dengan memperlihatkan surat perintah tugas dan melakukan pemeriksaan di apotek tersebut. Dan setelah dilakukan pemeriksaan, petugas menemukan sejumlah obat kuat yang diduga tanpa ijin,” papar Restu.

Selanjutnya, guna kepentingan penyelidikan, tersangka EP dan barang bukti yakni yakni SF PKS sebanyak 32 pcs, pi kang shuang sebanyak 48 pcs, black kobra sebanyak 10 pcs, nga-sur sebanyak 7 pcs, urat madu sebanyak 5 pcs, urat kuda sebanyak 1 pcs, nangenzengzhangsu sebanyak 1 pcs, cap serigala sebanyak 1 pcs, seven leave gingseng sebanyak 3 pcs dan pil tupau jantan sebanyak 238 pcs diamankan ke Polres Nias.

“Pada perkara ini telah dilakukan pemeriksaan sejumlah saksi, tersangka dan saksi Ahli BPOM Medan serta gelar perkara dan terhadap tersangka EP telah dilakukan penahanan di RTP Polres Nias pada tanggal 12 April 2019 lalu,” ungkapnya.

“Tersangka dikenakan Pasal 197 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, yang isinya setiap orang dengan sengaja memproduksi dan mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar berupa obat tradisional tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,” pungkas dia. (Ganda)

Bagaimana Menurut Anda