Mariani Tersenyum, Kolang-Kaling Jadi Berkah di Bulan Ramadhan

351

TAPSEL-SUMUT-BERITAANDA – Bulan Ramadhan 1440 Hijriah merupakan bulan penuh rahmat bagi semua umat Islam. Tak heran, bulan yang istimewa ini juga membawa berkah tersendiri bagi masyarakat. Pedagang kolang-kaling salah satunya.

Kolang-kaling bersumber dari biji buah pohon aren. Setelah melewati proses pengolahan, mulai dengan perebusan pada air mendidih hingga pengupasan, biji inipun berubah wujud menjadi salah satu cemilan khas yang disukai di saat berbuka puasa maupun merayakan hari raya Idul Fitri.

Biji buah pohon aren berwarna putih dan terasa kenyal dimulut ini tergolong banyak diburu penikmat cita rasa manis untuk disajikan pada saat berbuka puasa bulan Ramadhan, baik dalam bentuk manisan, kolak, es campur serta campuran makanan lainnya.

Saat setiap memasuki bulan Ramadhan maupun mendekati lebaran (Idul Fitri), buah yang tergolong mudah didapat baik di pasar tradisional maupun supermarket dan pusat perbelanjaan lainnya, kolang-kaling cenderung mengalami peningkatan harga.

Kenaikan harga kolang kaling yang mencapai 100% dari hari biasa tentunya menjadi pintu rejeki bagi para pedagang dan pengolah kolang kaling. Untung yang diperoleh dapat tembus hingga dua kali lipat, hal yang tentunya cukup menggiurkan bagi pelakunya.

Seperti yang diutarakan Mariani Siregar, salah seorang pengolah kolang-kaling yang ditemui di Dusun Pagaran Ri, Desa Pargarutan Dolok Kecamatan Angkola Timur Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Dia menyebut, hari biasa harga jual kolang kaling hanya dikisaran Rp4.000 per kilogram (Kg).

“Kalau hari biasa, harga jual kolang-kaling hanya ada dikisaran Rp3.500-Rp4.000/Kg. Namun, pada bulan Ramadhan naik menjadi Rp8.000/Kg,” kata Mariani saat ditemui BERITAANDA tengah mengolah kolang-kaling miliknya bersama sang suami, Siagian.

Mariani bersama suami tercinta dibantu anak-anaknya mengaku sudah melakoni profesi ini dalam kurun waktu 20 tahun lamanya. Uniknya, profesi tersebut bagi keluarga Mariani bersifat musiman, artinya hanya dikerjakan disaat bulan Ramadhan saja.

“Mengolah kolang-kaling hanya kami tekuni disaat bulan Ramadhan saja, sebab hanya di bulan itu saja hasilnya dapat mendatangkan keuntungan besar. Sedangkan di hari-hari biasa, kami beraktivitas seperti biasa,” ungkap pasangan suami istri petani ini.

Disinggung mengenai berapa omzet atau untung yang diperoleh dari profesi musiman tersebut, keduanya tampak senyum sumringah seolah enggan memberitahu awak media secara terperinci. Hanya sekedar mengumbar seputar rejeki lebaran.

“Alhamdulillah, hasil keuntungan dari mengolah sekaligus berdagang kolang-kaling seperti ini, dapat memenuhi kebutuhan di hari lebaran. Sayangnya, terkadang stok biji buah pohon arennya sering menipis karena harus berbagi dengan pengolah lainnya,” ujar Mariani.

Untuk pemasarannya, kata Linda, oleh pembeli (toke) dari Sipirok dan Ranto yang datang langsung membeli ke lokasi pengolahan disamping rumahnya, Mariani ketahui, bahwa kolang-kaling hasil olahannya akan dibawa ke daerah Jakarta dan Kota Medan.

“Intinya, sepanjang kolang-kaling masih bisa didapati di area perkebunan, maka selama itu kekhawatiran akan momen tak ikut menikmati hari lebaran sirna. Kolang-kaling sudah menjadi berkah setiap bulan Ramadhan bagi keluarga kami,” tutupnya tersenyum. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda