Kinerja Ekonomi Lampung Masih Kuat di Tengah Tekanan Eksternal

0

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Pertumbuhan ekonomi global semakin tidak merata dan disertai ketidakpastian di pasar keuangan global yang masih tinggi. Ekonomi AS diperkirakan tetap kuat didukung akselerasi konsumsi dan investasi, disertai tekanan inflasi yang tetap tinggi.

Sesuai dengan perkiraan, The Fed menaikkan suku bunga kebijakan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 3x sampai dengan September 2018 sebagai bagian dari proses normalisasi kebijakan moneternya. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging market dan Eropa diperkirakan lebih rendah dari prakiraan, disamping perkiraan ekonomi Jepang dan Tiongkok yang juga menurun.

Ketidakmerataan pertumbuhan ekonomi global tersebut tidak terlepas dari ketegangan perdagangan antara AS dengan sejumlah negara lain. Tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global juga mendorong para investor menempatkan dananya di aset-aset yang dianggap aman, khususnya di AS.

Berbagai perkembangan tersebut pada gilirannya mengakibatkan dolar AS terus menguat yang kemudian mendorong aliran modal keluar dari negara-negara emerging market dan akhirnya menekan banyak mata uang negara berkembang.

Meski demikian, perekonomian Indonesia di triwulan II 2018 tercatat meningkat cukup tinggi, hal ini tercermin pada PDB triwulan II 2018 yang tumbuh sebesar 5,27% (yoy) atau merupakan capaian tertinggi sejak 2013.

Kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut, terutama didorong oleh permintaan domestik dari konsumsi swasta dan pemerintah. Disamping itu, pencapaian inflasi per September tercatat cukup rendah dan terkendali pada kisaran sasaran 3,5±1%.

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2018 tetap kuat didorong permintaan domestik. Investasi tetap baik seiring dengan berlanjutnya pembangunan infrastruktur sehingga mendorong perbaikan konsumsi swasta. Selain itu, belanja pemerintah yang tetap kuat dan stabilitas makroekonomi yang terjaga akan mendukung momentum perbaikan ekonomi.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai risiko ketidakpastian tersebut dengan melakukan upaya stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya, menjaga bekerjanya mekanisme pasar serta mendukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan.

Ekonomi Lampung pada triwulan II 2018 sendiri mampu tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 5,35% (yoy), melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi di periode yang sama selama 4 (empat) tahun ke belakang, maupun pertumbuhan ekonomi Sumatera dan nasional masing-masing sebesar 5,08% (yoy), 4,65% (yoy) dan 5,27% (yoy).

Sesuai dengan pola seasonalnya, pertumbuhan ekonomi di periode laporan juga tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2018 sebesar 5,10% (yoy). Disisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Lampung yang tinggi pada triwulan II 2018 ini ditopang oleh masih kuatnya konsumsi rumah tangga serta perbaikan net ekspor, disamping investasi yang cukup solid.

Disisi penawaran, motor penggerak perekonomian Lampung bersumber dari sektor industri pengolahan, sektor konstruksi serta sektor perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor.

Inflasi IHK Provinsi Lampung pada triwulan II dan III 2018 tercatat terkendali dengan pencapaian masing-masing sebesar 2,80% (yoy) dan 2,87% (yoy). Hal ini terutama ditopang oleh rendahnya pencapaian inflasi kelompok bahan makanan sebesar masing-masing 3,57% (yoy) dan 3,43% (yoy) di triwulan II dan III 2018, dibawah rata-rata pencapaian inflasi kelompok bahan makanan selama 3 (tiga) tahun ke belakang.

Pencapaian ini tidak lepas dari upaya Tim Kerja Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang intensif dalam melakukan pengendalian harga. Namun demikian, ditengah rendahnya pencapaian ini, inflasi IHK Provinsi Lampung secara tahunan tercatat masih berada di atas level inflasi Sumatera sebesar 2,53% (yoy), meski pencapaiannya cenderung sama dengan Nasional sebesar 2,88% (yoy).

Sejalan dengan akselerasi pemulihan perekonomian domestik, ketahanan sektor rumah tangga sebagai penopang perekonomian Lampung relatif terjaga, didukung pertumbuhan konsumsi yang tetap tinggi, kondisi keuangan termasuk keyakinan atas penghasilan serta profil kredit yang membaik.

Sejalan dengan hal tersebut, ketahanan korporasi di Provinsi Lampung juga tergolong stabil termasuk dari sisi kualitas kredit yang diterima. Meski demikian, terjadi perlambatan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 0,45% (yoy), termasuk dari sektor pertanian yang terus berada pada tren pertumbuhan penyaluran rendah yang kedepan berpotensi meningkatkan kerentanan eksposur bank dan lembaga keuangan pada sektor tersebut.

Sedikit berbeda dari perkembangan kinerja sektor rumah tangga dan sektor korporasi, indikator utama kinerja perbankan Lampung pada triwulan II 2018 menunjukkan gejala penurunan meskipun dari sisi pengelolaan risiko juga masih terjaga.

Perlambatan pertumbuhan terutama terjadi pada aset dan kredit atau pembiayaan. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank umum masih menunjukkan pertumbuhan yang meningkat sekaligus mendukung peningkatan kemampuan mitigasi risiko likuiditas, meskipun pada Bank Syariah dan BPR pertumbuhan DPK masih mengalami perlambatan.

Adapun kinerja pengelolaan risiko kredit terpantau tidak mengalami perubahan yang berarti dari triwulan sebelumnya. Pelaksanaan fungsi intermediasi perbankan, termasuk dukungan pembiayaan kepada UMKM juga terpantau berjalan optimal seiring menguatnya permintaan domestik sekalipun ditengah ruang ekspansi pembiayaan yang makin terbatas khususnya pada Bank Syariah dan BPR.

Selanjutnya di sisi sistem pembayaran, sesuai dengan pola historisnya di periode lebaran, terjadi net outflow sebesar Rp2,85 triliun di wilayah Provinsi Lampung pada triwulan II 2018. Transaksi pembayaran tunai tercatat meningkat tercermin dari peningkatan frekuensi kas keliling, serta nominal kas titipan.

Begitu halnya dengan transaksi pembayaran non tunai melalui RTGS yang masih tumbuh positif, meski SKNBI tercatat sedikit mengalami penurunan yang diperkirakan sebagai dampak dari mulai berkembangnya berbagai jenis instrumen sistem pembayaran yang berbasis teknologi internet di masyarakat.

Sejalan dengan solidnya transaksi pembayaran tunai dan non tunai, penggunaan uang elektronik terus mengalami peningkatan. Sampai dengan triwulan II 2018, terdapat penambahan jumlah uang elektronik (unik) serta agen Layanan Keuangan Digital (LKD) di Provinsi Lampung tercermin dari peningkatan rasio unik dibanding agen, dari 2,21% menjadi 2,45% seiring perluasan penyaluran bantuan sosial non tunai di Kota Metro pada triwulan II 2018.

Memasuki triwulan III 2018, ekonomi Lampung diperkirakan tumbuh lebih lambat dibandingkan triwulan II 2018. Di sisi permintaan, konsumsi swasta diperkirakan masih menjadi pendorong utama pertumbuhan, meskipun tidak sekuat periode sebelumnya yang ditopang faktor musiman perayaan hari besar keagamaan.

Pendorong pertumbuhan lainnya diperkirakan bersumber dari perbaikan net ekspor yang didukung kenaikan produksi perkebunan meskipun harga komoditas utama ekspor seperti CPO dan kopi diprakirakan cenderung stagnan atau bahkan turun.

Secara sektoral, siklus produksi optimal komoditas perkebunan seperti kopi, tebu dan nanas memasuki musim kemarau diperkirakan menjadi penopang kinerja sektor pertanian, juga sektor perdagangan dan sektor transportasi-pergudangan. Sektor industri pengolahan diperkirakan juga tetap tumbuh solid sejalan dengan masih kuatnya permintaan domestik. Pada sektor perdagangan, pertumbuhan diperkirakan akan sedikit lebih lambat seiring kembali normalnya permintaan bersamaan dengan berlalunya momentum perayaan keagamaan.

Adapun pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan IV 2018 diperkirakan berada pada kisaran 5,1%-5,5% (yoy) dengan potensi bias kebawah. Konsumsi swasta diperkirakan masih menjadi pendorong utama pertumbuhan, didorong oleh berlangsungnya pola seasonal libur Natal dan Tahun Baru serta peningkatan realisasi anggaran pemerintah daerah di akhir tahun. Sedangkan net ekspor berpotensi mengalami koreksi dibandingkan triwulan III seiring kemungkinan berlanjutnya penurunan harga komoditas ekspor seperti CPO, kopi dan lada, serta berkurangnya produksi perkebunan, serta downward bias proyeksi pertumbuhan ekonomi beberapa negara mitra dagang utama.

Secara sektoral, peningkatan kinerja sektor perdagangan diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan triwulan IV sejalan dengan pola musiman realisasi anggaran dan pelaksanaan hari besar keagamaan serta libur akhir tahun, sedangkan pertumbuhan sektor pertanian sedikit termoderasi seiring siklus penurunan produksi pangan memasuki musim hujan. Berbagai indikator tersebut menjadikan pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2018 diperkirakan dapat tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya pada kisaran 5,1%-5,5% (yoy).

Rilis ini diperoleh pada kegiatan konferensi pers di kantor Bank Indonesia perwakilan Lampung bersama kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Budiharto Setyawan, serta dihadiri sejumlah media, Rabu (10/10/2018). (Katrine)

Bagaimana Menurut Anda