Helikopter Kobe Bryant Hindari Awan Sebelum Jatuh

112

DUNIA, BERITAANDA – Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) menyatakan, helikopter yang ditumpangi pebasket legendaris Kobe Bryant naik ke ketinggian lebih dari 1.000 kaki untuk menghindari awan sebelum terjatuh. Pilot helikopter itu menyampaikan posisi terakhirnya kepada pengawas lalu lintas udara dalam pesan radio.

Jennifer Homendy dari NTSB mengatakan, radar mengindikasikan bahwa helikopter itu mencapai ketinggian 2.300 kaki sebelum jatuh di lereng bukit. Penyelidik NTSB pergi ke lokasi kecelakaan pada Senin untuk mengumpulkan bukti.

“Sebaran puingnya cukup luas. Sepotong ekornya menuruni bukit, badan helikopter ada di sisi lain bukit dan rotor utama berada sekitar 100 yard (91 meter) di luar itu,” ujar Homendy.

Homendy menambahkan, pilot telah meminta dan menerima izin khusus untuk terbang dalam kabut tebal beberapa menit sebelum kecelakaan. Helikopter itu terbang pada ketinggian 1.400 kaki (427 meter) ketika melaju ke selatan dan kemudian ke barat.

Pilot kemudian meminta pengontrol lalu lintas udara untuk memberikan bantuan radar. Namun, helikopter tersebut terbang terlalu rendah sehingga tidak terjangkau dengan radar. Sekitar empat menit kemudian pilot disarankan meningkatkan ketinggian untuk menghindari awan.

“Ketika ATC bertanya apa yang dilakukan oleh pilot, maka tidak ada jawaban. Data radar menunjukkan helikopter naik ke 2.300 kaki (701 meter) dan kemudian mulai berbelok ke kiri. Kontak radar terakhir adalah sekitar jam 09.45 pagi,” kata Homendy.

Dua menit kemudian, seseorang menelpon 911 dan melaporkan kecelakaan itu. Beberapa ahli menyatakan bahwa pilot diduga bingung mengendalikan helikopter karena kabut. Namun Homendy mengatakan, tim investigasi akan melihat segala kemungkinan penyebab kecelakaan mulai dari sejarah pilot hingga mesin.

“Kami melihat faktor manusia, mesin, dan lingkungan. Sementara faktor cuaca hanya sebagian kecil,” ujar Homendy.

Seorang instruktur penerbangan helikopter, Randy Waldman mengatakan, seorang pilot yang kebingungan mungkin hanya memiliki sedikit waktu untuk menghindari kecelakaan fatal. Beberapa ahli mempertanyakan kenapa helikopter itu diizinkan terbang di tengah cuaca yang berkabut.

“Secara visual, jika Anda terjebak dalam situasi dimana Anda tidak dapat melihat dengan jelas, harapan hidup pilot dan pesawat udara mungkin 10 atau 15 detik, dan itu terjadi setiap saat,” ujar Waldman.

Helikopter itu meninggalkan Santa Ana di Orange County, selatan Los Angeles pada jam 9 pagi waktu setempat. Bryant dan putrinya Gianna akan menuju Thousand Oaks untuk menghadiri turnamen basket.

Pengendali lalu lintas udara mencatat visibilitas buruk di sekitar Burbank dan Van Nuys. Pada satu titik, pengendali memerintahkan helikopter untuk berputar karena ada pesawat lain di daerah itu.

Seorang pensiunan Angkatan Darat yang pernah menerbangkan helikopter di Irak, Jerry Kidrick mengatakan, pilot helikopter yang membawa Bryant kemungkinan bingung dan panik. Karena dia meningkatkan ketinggian kemudian turun dengan cepat. Ketika itu terjadi, pilot harus segera beralih menerbangkan pesawat dengan menggunakan instrumen mesin.

“Ini salah satu kondisi paling berbahaya. Jika pilot tidak terlatih cukup baik untuk mempercayai instrumen, maka dia akan panik,” ujar Kidrick yang kini mengajar di Embry-Riddle Aeronautical University.

Diantara mereka yang tewas dalam kecelakaan itu adalah John Altobelli pelatih kepala dari tim bisbol Orange Coast College California Selatan, istrinya Keri dan putrinya Alyssa. Selain itu, ada pula Christina Mauser, pelatih bola basket putri di sekolah dasar California Selatan, dikutup dari Associated Press. (*)

Sumber: republika.co.id

Bagaimana Menurut Anda