Catatan Pinggir Aktivis Jelang Kongres V ‘Partai Moncong Putih’ di Bali

346

NASIONAL, BERITAANDA – Menjelang pelaksanaan kongres V Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada 8-10 Agustus 2019 di Bali mendatang, belum ada kandidat lain yang mencuat untuk mengisi posisi ketua umum selain Megawati Soekarnoputri.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F Silaen mengatakan, tidak akan ada perubahan yang berarti di tubuh DPP PDI Perjuangan yang juga disebut dengan ‘partai moncong putih’ itu. Hal ini terlihat jelas dalam beberapa steatmen yang senada dari elite- elite partai moncong putih itu. Jadi kongres kali ini juga akan sama saja dengan munas sebelum-sebelumnya.

“Elite moncong putih menurut kaca mata saya enggan atau bahkan tidak akan berani untuk sekedar berkomentar oto kritik, apalagi sampai berseberangan dengan komandan besar. Jadi disatu, sisi ini bagian dari ketaatan kepada komandan namun disisi lain akan mematikan nalar berpikir kritis manusia hidup, didalam elite moncong putih itu sendiri,” kata Silaen kepada wartawan di Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Dalam tradisi cogito ergo sum adalah sebuah ungkapan yang diutarakan oleh Descartes, sang filsuf ternama dari Prancis. Artinya adalah ‘aku berpikir maka aku ada’. Kalimat ini membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang ketika berpikir dalam konteks dialektika publik.

Lanjut Silaen, dalam dunia politik berbeda pandangan itu hal yang wajar saja, tradisi dialektika itu bagian dari pencerahan dan pendidikan politik publik dan itu tidak salah, yang terpenting tidak baper atau bahkan menimbulkan distabilitas internal.

“Yang jadi catatan berbahaya jika itu sampai mematikan daya kritis manusia yang hidup, di tengah dunia yang dinamis dan berubah drastis,” ujar Silaen sebagai pengamat politik muda zaman now.

Kebebasan itu tidak selalu berdampak buruk, apalagi dijadikan ketakutan yang membelenggu daya kritisme.

“Yang buruk itu jika sudah kebablasan alias nyinyir berat yang under controling, itu jadi catatan pinggir saya dari hasil ‘terawangan’, ini terlihat jelas, ada semacam belenggu psikologis,” ungkap Silaen dengan wajah serius.

Perlu diketahui bersama bahwa PDI Perjuangan ini identik dengan partai wong cilik, kata Silaen, karena PDIP ini jadi rumah kaum minoritas. Sebab, sampai saat ini belum ada tandem yang memperebutkan basis massa tersebut.

Jika flashback ke pasca reformasi ada beberapa parpol yang muncul untuk memperebutkan ceruk massa tersebut, namun karena PT (parliamentary threshold) maka gugur didalam pertandingan. Misalnya partai damai sejahtera (PDS) yang awal kemunculannya cukup fenomenal yakni mampu mendudukan anggota parlemen 13 kursi meski banyak terindikasi suaranya di bonsai, namun masih dapat mengantarkan perwakilannya di Senayan. “Namun pasca gugurnya parpol berbasiskan kristiani itu, maka basis pemilih memberikan suaranya dominan ke parpol moncong putih,” beber Silaen aktivis kepemudaan ini.

Dalam kajian Laksamana di lapangan bahwa basis massa pemilih minoritas (nasrani) ini berharap banyak ke parpol ‘moncong putih’ ini, disamping juga ke parpol lainnya, agar perlakuan dan tindakan diskriminasi di lapangan sungguh-sungguh diperjuangkan karena ada kesan seperti berjuang sendiri.

“Parpol moncong putih dalam beberapa hari kedepan akan melaksanakan kongres di Bali, banyak pihak berharap dapat menelorkan rekomendasi ‘bernas’ atas problem yang terjadi di bangsa ini, terkait intolerasi, radikalisme dan politik identitas yang menguat di tengah bangsa ini,” jelas dia.

“Sebagai winner election 2019 diharapkan mampu memainkan peran-peran strategis yang berdiri di atas konstitusi dan kemanusiaan. Meskipun tidak populis ini harus diperjuangkan sungguh-sungguh demi masa depan indonesia yang lebih baik,” tutup Silaen akhiri percakapan. (Ganda)

Bagaimana Menurut Anda