Buaya yang Muncul di Sungai Komering Bukan ‘Puyang’, Ini Penjelasannya

1594
Tim BKSDA Sumsel didampingi tokoh masyarakat dan Satpol PP OKI meninjau jalur yang menuju Lebak Teloko.

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Didampingi pihak Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel meninjau langsung lokasi munculnya buaya di Sungai Komering Desa Tanjung Serang Kayuagung, Jumat (8/11/2019) siang.

Setiba di lokasi, tepatnya di pinggir sungai tersebut, rombongan yang dipimpin oleh Kabid Damkar OKI Syawal Harahap dan Doni Prihayana Muslihat selaku Koordinator Tim Penanganan Konflik Manusia dan Satwa Liar BKSDA Sumsel, melihat penampakan buaya.

Menurut mereka, dapat dipastikan bahwa sosok buaya kerap muncul serta menjadi tontonan warga, dan kali ini juga terlihat, bukanlah ‘puyang’ menurut mitos adalah buaya jadi-jadian, tetapi benar – benar hewan reptil yang keluar dari habitatnya.

Terlebih, mengingat saat ini memang musim kawin dan bertelurnya reptil tersebut, diduga buaya yang muncul di permukaan Sungai Komering Desa Tanjung Serang Kayuagung berjenis kelamin betina, yang juga akan melakukan hal sama, tetapi tersesat.

“Untuk sementara kita datang kesini untuk survey pendahuluan, melihat situasi dan kondisi. Bukan cuma lihat di youtube atau kabar yang beredar, meninjau langsung guna melihat lokasinya seperti apa,” kata Doni Prihayana Muslihat.

Kalau dari pengalaman kami, kata dia lagi, inikan bulan – bulan kawin serta bertelur, dan ini memang sifat alaminya buaya. Prediksi kami, buaya yang muncul disini pun begitu. Jadi si buaya jantan itu pada musim kawin mengeluarkan hormon feromon untuk menarik, lalu si buaya betina mencari jantannya.

“Termasuklah buaya yang muncul disini, yang kami prediksi berkelamin betina, juga sedang mencari jantan karena hormon feromon tadi. Cuma entah kenapa bisa nyasar dan tersesat sampai disini. Kalau instingnya buaya, pasti beri tanda lalu dijemput kawanannya kembali ke habitat, otomatis ketemu si jantan,” tandas dia.

“Itu biasanya paling lama waktu dua pekan. Namun sekarang sudah dua pekan, kenapa masih disini. Artinya kita akan tunggu dulu sepekan kedepan, seharusnya si betina tidak ada lagi, itu kondisi normalnya. Kalau abnormal si betina, maka kita akan ambil dan tangkap untuk dipindahkan ke habitat atau kawanannya,” tambah dia.

“Kalau untuk penangkapan, Kita opsinya tadi ada dua. Pertama dengan jaring selebar sungai, lalu target diarahkan kemana, dan katanya tadi ke Lebak Teloko. Tetapi ternyata tadi setelah kita survey jalan masuknya surut, perahu juga susah lewat, serta kondisi lebak juga airnya sebatas lutut atau dangkal, maka tidak memungkinkan,” jelas dia.

Kabid Damkar OKI bersama Tim BKSDA memantau lokasi munculnya buaya.

Dan dari tokoh masyarakat yaitu Bapak Ismail, karena kadesnya sedang cuti. Lanjut dia, beliau juga tidak menyarankan atau berkeberatan jika buaya dipindahkan ke Lebak Teloko. Menurut dia, kalau bisa dibawa keluar dari sini, karena jika masih di daerah ini dapat membahayakan.

“Cara kedua disetrum, seperti menyetrum ikan pakai genset. Setelah buaya pingsan lalu diamankan, diangkat lalu dibawa. Walaupun gunakan setrum, namun tetap pakai jaring untuk membatasi gerak buaya agar mudah disetrum. Dan ini langkah terakhir,” ungkap dia.

Karena tadi di Lebak Teloko keberatan jika sudah tertangkap, maka akan kita pindahkan ke tempat lain. Lanjut dia, karena tadi ada yang menyarankan ke lokasi lain yang ada di OKI akan dilihat dulu, bisa atau tidak.

“Kalau tidak bisa juga, maka akan kita bawa ke daerah jalur, yaitu suaka marga satwa Padang Sugihan,” jelas dia.

Pantauan di lokasi, setelah melakukan peninjauan, dengan dibantu Satpol PP dan Damkar OKI serta tokoh masyarakat setempat, Tim BKSDA Sumsel lalu memasang spanduk himbauan di tepian sungai yang terdapat buaya, agar masyarakat berhati – hati. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda