Antisipasi Karhutbunlah, Pemkab OKI Mulai Melakukan Pencegahan Dini

127

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Langkah antisipasi pencegahan dan pengendalian dini bahaya kebakaran hutan, kebun dan lahan menjadi prioritas di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan. Oleh karena itu, Pemkab, FKPD dan perusahaan yang berdomisili di OKI menggelar rapat koordinasi khusus karhutbunlah tahun 2019 di kantor bupati setempat, Kamis (4/4/2019).

Sekda OKI H. Husin, S. Pd, MM dalam kesempatan tersebut menjelaskan, berdasarkan informasi dari BMKG Sumsel, selama bulan April intensitas hujan diperkirakan akan menurun dan diprediksi awal musim kemarau dimulai pada pekan terakhir Mei hingga Oktober 2019 dengan puncak kemarau pada bulan Agustus 2019.

Untuk itu, dia menginstruksikan para camat dan forkompincam di lapangan dan perusahaan wajib antisipasi serta mendukung penanggulangan karhutbunlah dengan segera melakukan revitalisasi kelompok masyarakat peduli api beserta posko-poskonya, membuat sekat kanal, sumur bor dan memenuhi sarpras karhutbunlah.

“Segera ditetapkan status siaga darurat, mengaktifkan posko-posko siaga, inventarisir kelompok peduli api, masyarakat peduli api serta kita himbau masyarakat waspada karhutbunlah. Fokus kita adalah pencegahan,” ungkap Sekda Husin.

Sementara itu Plt Kepala BPBD OKI Listiadi Martin dalam laporannya menyebutkan jumlah lahan yang terbakar di OKI di tiga tahun terakhir antara lain sebanyak pada 213 hektare pada tahun 2016, 2017 sebanyak 179 hektare dan 2018 sebanyak 864 hektare.

Dari data yang dimiliki, menurut dia, tingkat kerawanan bencana karhutbunlah di OKI antara lain, kondisi sangat rawan sebanyak 554.179 hektare dan rawan sebanyak 603.175 hektare. Kondisi rawan tersebut tambahnya tersebar di 63 desa di Kabupaten OKI.

“Kita sudah miliki peta rawan bencana maka belajar dari tahun-tahun lalu kegiatan tahun ini kita fokuskan pada wilayah rawan dan sangat rawan melalui upaya preventif,” tukasnya.

Kabag Ops Polres OKI Kompol Yudha Widyatama Nugraha meminta fokus penggendalian karhutbunlah diutamakan pada wilayah rawan dan sangat rawan serta optimalisasi pencegahan melalui mitigasi.

Berdasarkan pantauan tahun 2018, menurut dia, sebanyak 257 firespot yang dominan berada pada empat kecamatan rawan karhutbunlah antara lain Pangkalan Lampam, Cengal, Sungai Menang dan Tulung Selapan.

“Kita fokus di wilayah yang rawan. Belajar dari tahun sebelumnya, perlu penajaman pembuatan posko. Posko yang dibuat jangan terlalu jauh dengan fire spot,” ujarnya.

Selain upaya itu, tambah Yudha, sinergitas semua pemangku kepentingan sangat dibutuhkan. Upaya pencegahan dan pengendalian di lapangan seringkali terkendala dengan sulitnya akses yang sulit dijangkau dan terbatasnya sumber air.

“Tak hanya itu, terbatasnya kemampuan pemadaman di malam hari dan masih adanya kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan cara membakar. Tetapi kita secara tupoksi harus besinergi menanggulangi karhutbunlah,” tutur Yudha. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda