Akulah Momo Kelana

298
Ilustrasi.

Cerpen Oleh: Anto Narasoma

BERITAANDA – Wajah tua Pak Momo terlihat kuyu dan pucat. Ia tampak lelah. Karena usianya yang sudah memasuki tahapan kepala tujuh (70 tahun), membuat wajahnya yang kusam tak bercahaya itu dipenuhi keriput dan kumis memutih. Apalagi dalam beberapa hari terakhir ia terserang diare, membuat bobot tubuhnya merosot tajam.

Yang membuat Pak Momo lebih menderita, di usianya yang demikian sepuh itu, ia hidup sendirian di sebuah kamar bedeng seng berukuran 2,5×3 meter. Suasananya panas dan sumpek. Ia hidup bersebelahan dengan Bu Siti, yang sehari-harinya bekerja sebagai pemulung.

Kebetulan pula, di samping pondokan mereka terdapat trailer sampah yang menebarkan aroma tak sedap. Tadinya, kawasan itu merupakan lahan kosong milik pengusaha keturunan yang bergerak di bidang otomotif. Tapi sang pengusaha tak keberatan jika ada warga miskin yang tak punya tempat tinggal membangun bedeng pondokan di tanah itu. Nanti, jika lahan itu diperlukan pemiliknya, mereka harus mengosongkan kawasan itu tanpa ganti rugi.

Dalam suasana tak sehat seperti itulah, Pak Momo menekuni sisa hidupnya di ruangan sempit. Ia dikenal masyarakat di sekitarnya sebagai seniman musik miskin dan tidak beruntung. Nasib buruknya itu memaksa ia harus hidup serba kekurangan dan jarang memperoleh asupan gizi dan vitamin yang baik.

Padahal, di masa mudanya dulu, ia mendapat julukan, Momo Kelana sang pemain biola maut. Gesekan biolanya, selain halus mendayu, perpindahan dari nada ke nada di jarinya, begitu cepat dan memikat siapa pun. Terutama ketika dia melantunkan musik klasik, Mozart, wuih, hebatnya bukan main.

Makanya, para seniman musik muda yang ada di daerahnya tidak menyangka jika di pengujung usianya Pak Momo hidup dalam kemiskinan yang demikian mendera. Bahkan, sudah tiga hari ini ia mencret-mencret. Kemarin, secara tak sadar, ketika Pak Momo pulang mandi dari sumur di ujung lorong, di sepanjang perjalanan ke rumahnya, ia mencecerkan kotoran dari bawah sarungnya.

“Tua bangka tak tahu diri,” begitu caci-maki warga setempat sembari menutup lubang hidungnya.
“Barangkali dia itu sudah nyusu (bahasa Palembang: pikun),” sentak warga lainnya.

Mendengar itu, Bu Siti menyela mereka. “Sshh, kita tidak boleh menyaci-maki seperti itu kawan-kawan. Diakan sudah tua, dan tidak punya sanak keluarga lagi. Sedangkan dalam kondisi begitu tidak ada orang yang mengurusnya. Maklum saja ya, Pak Momo sedang menderita diare. Jadi saya minta tolong, janganlah mencaci-maki dia. Kasihanilah orang tua yang malang itu, ya”.

Suatu siang di kamarnya yang sumpek, Pak Momo berbaring di atas sehelai kertas koran edisi minggu pertama bulan lalu. Atap dan dinding seng tempat ia bermukim makin memperparah diarenya. Wajahnya pucat bukan main. Sedangkan tubuhnya lemas tak berdaya. Bu Siti sudah menyarankan agar Pak Momo segera ke puskesmas.

“Tapi maaf Pak Momo, saya tak dapat mengantar ke sana, karena mau kerja (memulung) ke tempat pembuangan akhir (TPS). Soalnya hari ini banyak sampah baru yang dibuang ke sana. Siapa tahu banyak barang bekas yang dapat saya jual untuk menafkahi anak-anakku,” tukas Bu Siti pagi tadi.

Pak Momo hanya tersenyum rawan sembari mengangguk pelan. Bahkan responnya hanya ia layangkan lewat kejapan lemah mata tuanya yang sayu. Itu terlihat dari balik kacamatanya yang tebal. Tapi sebelum Bu Siti pergi, wanita itu sempat meninggalkan singkong rebus dan secangkir kopi untuk Pak Momo di pinggir pintu tempat orang tua itu terkulai lemah.

“Terima kasih Bu Siti,” ujar Pak Momo. Suaranya terdengar lemah dan pelan sekali.

Sejam setelah kepergian Bu Siti, suasana siang di lingkungan itu dicekam keheningan. Karena jenuh, Pak Momo mencoba bangkit. Ia membuka kantong pembungkus biolanya dan mengeluarkan benda berharga miliknya itu. Lalu dipandangnya sejenak. Ia tersenyum getir. Kemudian dawai biola itu ia stem agar tak terdengar fals. Lalu benang stik biola itu ia balur dengan damar pemulas, agar kesat dan melahirkan gesekan suara yang bagus.

Tak lama diantaranya, suara biola Pak Momo merobek kesenyapan suasana. Kelembutan lengkingan biolanya menggambarkan rintihan hidupnya yang menderita luar biasa. Terutama ketika ia melantunkan lagu jazz klasik bertajuk i’m in the mood for love, membuat perasaan siapa pun akan tersentuh. Ternyata, kemampuan Pak Momo masih luar biasa. Di usianya yang senja, kemahirannya bermain musik masih menyisakan kekaguman bagi banyak orang.

Di masa mudanya dulu, lagu itulah yang melambungkan namanya di jagad musik inlander (bumi putra). Sebab, di lingkungan pemusik orang kulit putih (Belanda), Pak Momo sangat disayang gurunya, Hermaan van De Brink. Tiap kali tampil dalam Van De Brink Orchestra di Initium Ballroom, Momo selalu menjadi bintang. Seolah ia ingin mengatakan ke publik dunia bahwa akulah si Momo Kelana pencabik dawai biola maut. Apalagi pada masa kejayaannya, Momo memiliki wajah tampan, tentu banyak gadis yang rela tenggelam ke dalam pelukannya.

“Godverdomzeg. Jij benar-benar zakelijk dengan orchestra ini, Momo. Ike nilai, jij punya anleeg (bakat) begitu besar di bidang muziek. Ike bangga kepada kamu orang. Lihatlah, banyak noni-noni yang ingin kenal sama jij punya diri. Coba jij lihat di bawah stage sana. Ayo temui mereka,” begitu Van De Brink memberi pujian sekaligus anjuran kepada Momo.

Karena kemahirannya bermain biola, kehidupannya menanjak tajam. Nasib baik selalu berpihak ke dirinya. Hidupnya selalu bertabur order, terutama diajak Van De Brink bermain musik untuk mengisi acara pada pesta pejabat Belanda dan oriental music.

Pada masa kejayaannya, background kehidupan Momo digelimangi uang, minuman keras, wanita, dan pujian masyarakat. Dari dunia glamor itulah ia mampu mempersunting Chen Lie Moy ketika ia diminta untuk memperkuat kelompok oriental music di Initium Ballroom. Dari pernikahannya dengan Chen Lie Moy, Pak Momo mendapat dua anak.

Sayangnya, dalam ilustrasi hidup glamour seperti itu, Pak Momo tak pandai menghindari rongrongan minuman keras, judi, dan perempuan. Akibatnya, uang dan harta yang ia peroleh dari bermusik, ludes dibuat foya-foya.

“Bang Momo, aku memohon kepadamu agar kau dapat menghentikan sikap burukmu. Kasihan nasib anak-anak kita. Jika abang terus-terusan begitu, bagaimana masa depan mereka?” ujar Chen Lie Moy dengan airmata berurai.

Karena pengaruh alkohol, Momo tersinggung. Emosinya pun meletup. Wajah istrinya ia pukul hingga memar. Sedangkan bibir Lie Moy pecah berdarah.

“Kau tidak perlu mendikte aku. Yang penting uang belanja dan kebutuhan sehari-hari rumah tangga kita aku cukupi. Jadi jangan banyak omong,” hardik Pak Momo dengan roman muka bengis.

Jika sudah begitu, Chen Lie Moy hanya bisa menangis dan diam seribu bahasa. Dalam hatinya, wanita keturunan Tionghoa itu sudah tak tahan lagi hidup bersama Momo. Setelah pemerintah Indonesia menguasai teritorial wilayah pemerintahan sepenuhnya, Hermaan van De Brink pulang ke Nederland. Dalam kondisi seperti itu Pak Momo benar-benar terpukul. Terutama ketika istrinya kabur membawa dua anaknya.

Momo benar-benar bangkrut. Ia hampir gila menghadapi dunia kesendirian yang begitu sepi dan menyiksa. Ternyata, kebesaran karir musik di masa mudanya dulu tak seindah kehidupan rumah tangganya. Hingga kini, sudah tiga puluh tahun lebih ia ditinggal pergi istrinya. Sebagai seorang lelaki tua yang tak memiliki apa-apa lagi, Momo benar-benar terpuruk. Ia ibarat kayu lapuk yang menunggu saat-saat tumbang di tanah becek.

“Chen Lie Moy, maafkan Abang”. Itulah ucapan sesal yang meluncur lemah dari mulutnya yang ompong keriput. Rasa perih akibat diare kembali menggerogoti lambungnya. Kali ini sakitnya bukan main. Ia meringis dan menghentikan gesekan biolanya. Akibat rasa sakit yang tak tertahankan itu, sekujur tubuh Pak Momo mengeluarkan keringat dingin.

“Ya Allah..” begitu ia merintih. Ucapan religi dari mulut Pak Momo benar-benar surprise. Sebab, di sepanjang hayatnya, baru kali ini ia mengucapkan lafal Allah. Kemudian diam.

Bu Siti yang sudah tiga hari tak melihat bayangan Pak Momo, bertanya kepada tetangganya. Warga di lingkungan itu rata-rata bekerja sebagai pemulung dan penarik becak. Karena sibuk mencari nafkah, seolah warga di situ tidak saling mempedulikan.

“Sudah seminggu ini saya tidak melihat dia, Bu,” ujar Pak Mamat sembari memilih kantong-kantong plastik bekas yang akan ia jual ke pasar tradisional.

“Coba ibu panggil. Barangkali ia sedang tidur. Bukankah kamarnya bersebelahan dengan tempat tinggal Bu Siti?”.

“Ya. Saya sudah memanggil dia berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Bahkan, pintunya terkunci dari dalam”.

Mendengar itu Pak Mamat memandang tajam ke wajah Bu Siti. “Lho, ada apa Mat? Kok kau memandangi aku seperti itu?”.

“Itu dia masalahnya, Bu”. Wajah Pak Mamat terlihat serius. Lalu ia bangkit dari duduknya. Kantong-kantong plastik bekas yang ia susun rapi tadi, ditinggalnya begitu saja. Ia segera bergegas ke tempat tinggal Pak Momo. Dengan perasaan penuh tanda tanya, Bu Siti mengikutinya dari belakang.

Sesampainya, Pak Mamat memanggil orang tua itu. Tapi tak ada jawaban. Bekali-kali ia panggil, tapi tetap tak ada jawaban.  Ia segera mendobrak pintu kamar Pak Momo. Masya Allah!, Pak Mamat dan Bu Siti kaget setengah mati. Mereka segera menutup hidungnya.

Dari dalam kamar Pak Momo yang gelap, menyeruak aroma tak sedap. Sedangkan segerombol lalat hijau terbang berkerubutan. Dalam keremangan suasana, tubuh Pak Momo yang kaku terlihat biru membengkak. Ada beberapa belatung merayap di lengan dan mulutnya yang menganga. Sementara di sisi tubuhnya, biola kesayangannya tergolek begitu saja.

Melihat suasana seperti itu, wajar jika keadaan Pak Momo tak terdeteksi oleh warga di sekitarnya. Sebab, aroma bangkai dan bau busuk lainnya yang menebar di udara bebas, sudah menjadi hal biasa di lingkungan tersebut. Karena di situ ada trailer tempat pembuangan sampah orang-orang kaya. Warga di sekitar itu pun segera menyerbu ke kediaman Pak Momo. Perbincangan hiruk-pikuk warga mengenai orang tua malang ini menebarkan beragam persepsi. Setelah ditelepon, sejumlah polisi pun tiba di tempat itu. (*)

Bagaimana Menurut Anda